Popie in Response

Stranded in Aceh

Archive for the ‘My Journey’ Category

Tello Islands

Do you know Tello Island? Usually Indonesian people never heard this lovely Islands. This is a very small Islands as a part of South Nias District.

There are some access to get there.

1. you can go there by boat from South Nias. It takes around 4 hours. Maybe it cost around 1 million rupias.
2. you can get there by ferry boat from South Nias. It takes around 8 hours. Maybe it cost not more than 100.ooo rupias per person.
3. you can get there by aeroplane from Binaka Airport- Gunung Sitoli (Nias). If you want this way, you should booked the ticket one month before. Because it’s always full booked for people. But if you are a lobster, you can go easier to get this aeroplane than people. It cost around 300.000 rupias for about 45 minutes by pioneer aircraft. Sometimes, People in the airport will forced you to pay additional cost for boat from Lasondre airport to Tello Islands. What an Indonesian Looks Like! You can write a complain in Binaka Airport for this anoying service.
4. you can get there by aeroplane from Ketaping International Airport – Padang (West Sumatera). I never go trough this way and have no details information. But its about 1 hour.

What is special with this Islands?

The first of all, it consisted of 99 Islands. See, how rich this island is. It must have more virgin and more beautiful scenic than Thousand Island (Kepulauan Seribu – Jakarta). Can you imagine the huge potential of marine resources there?
I got this big fish for my dinner! compare the fish with my 39 size number foot!

When I see the sea in front of my guest house, I can find many sea urchine (bulu babi) at night day. When I go swimming not more than 5 meters from coastal line, I could find a lot of ornamental fish and life coral.

Based on information from the guest house owner who have a lodge too, on June until October is the peak season. They have many tourisrt come to the lodge for surfing and diving. It is only foreign tourist, no domestic ones. Usually the tourist sponsored by a big surfing company like Billabong, etc. They enjoy the huge and challanging waves for the surfer. Waw, the tourist enjoy our waves that we never know. What a pitty owner we are!!!

If you want to go there, you should have good preparation.

1. Call your contact person there to make sure everything have been booked. Because there is only a few of lodge or accomodation.
2. Bring cash money because there is no bank there!
3. Bring your personal belonging especially personal medecine, because it’s hard to find drug store there!
4. Don’t worry if you hard to find the restaurant, ask the lodge owner to prepare it for you.
With good preparation you will find an exciting journey.

tello island image

Pernah mendengar tentang Pulau Tello? Biasanya orang Indonesia jarang mendengar tentang pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan Nias bagian Selatan.

Ada beberapa cara untuk menuju ke pulau ini:
1. Dari pelabuhan Nias Selatan dengan menggunakan boat. Perjalanan ini akan menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam dengan biaya sekitar Rp 1 juta.
2. Dari pelabuhan Nias Selatan dengan menggunakan kapal ferry. Perjalanan ini akan menghabiskan waktu kurang lebih 8 jam dengan biaya sekitar Rp. 100.000 per orang.
3. Dari Bandar Udara Binaka – Nias menggunakan pesawat perintis dengan biaya sekitar Rp. 300.000 dan waktu perjalanan kurang lebih 45 menit. Jika tertarik dengan cara ini, harus melakukan pemesanan tiket 1 bulan sebelumnya karena akan selalu penuh untuk manusia. Aneh bukan? ya karena pesawat ini lebih memprioritaskan lobster yang mampu membayar lebih mahal dari manusia. Terkadang orang di Bandara akan memaksa untuk membayar biaya angkut dengan kapal penyebrangan walaupun kita tidak naik kapal tersebut. Kapal penyebrangan ini memang diperlukan karena bandara terletak di pulau yang terpisah dengan perkampungan penduduk. Namun pemaksaan penggunaan atau harus membayar tanpa menggunakan bisa menjadi layanan yang mengganggu kenyamanan pengguna pesawat.
4. Cara lain yang sering menjadi andalan bagi turis mancanegara adalah melalui Bandar Udara Ketaping – Padang. Perjalanan ini menggunakan kapal perintis yang memakan waktu sekitar 1 jam.

Lalu apa istimewanya tempat ini?

Kepulauan Tello mempunyai 99 pulau kecil yang sangat subur dengan pemandangan yang lebih indah dari Kepulauan Seribu – Jakarta. Coba bayangkan betapa besar potensi sumber daya lautnya?
Lihat saja, saya bisa mendapatkan ikan sebesar ini. Coba bandingkan dengan kaki saya yang berukuran 39.

Selain ikan, di malam hari saya bisa melihat bulu babi dari depan penginapan saya. Jika berenang tidak lebih dari 5 meter dari pantai sudah dapat menemukan ikan hias dan terumbu karang.

Berdasarkan informasi dari pemilik penginapan, bulan Juni sampai Oktober adalah waktu sibuk bagi penginapannya. Banyak turis luar negeri terutama Australia yang berkunjung untuk berselancar atau menyelam. Hanya turis luar negeri karena harga berwisata penginapan cukup mahal bagi turis dalam negeri ($ 500/malam). Biasaanya perjalanan mereka disponsori oleh perusahaan besar seperti Billabong. Mereka senang menikmati ombak yang bahkan orang Indonesia sebagai pemilik ombak tidak pernah tahu..

Jika tertarik ingin mengunjungi tempat ini, harus mempunyai persiapan yang matang.

1. Hubungi agen perjalanan di sana untuk memastikan semuanya telah diatur dengan baik karena sangat sedikit sarana akomodasi dan transportasi. Kurangnya pengaturan dapat membuat anda terisolasi beberapa waktu di pulau ini.
2. Bawa uang tunai karena tidak ada bank di pulau ini.
3. Bawa perlengkapan terutama obat-obatan yang cukup karena sulit menemukan toko dan apotek di sini
4. Jangan khawatir jika tidak menemukan makanan. Penginapan biasanya sudah menyediakan makanan (tetap harus dipertanyakan tambahan biaya untuk ini).

Persiapan yang matang membuat perjalanan lebih menarik.

  • 24 Comments
  • Filed under: My Journey
  • Tengku Chik Ditiro

    I have a chance to go to Tengku Chik Ditiro grave. It’s at Aceh. if you (women) want to go there, you should wear moslem scarf because they implemented “Syariah Islam”. See, it’s me wearing the scarf!
    Besides the grave, they serve a bigbowl of water. They believe it’s the holy water. You can drink it and wash your face with the water. They believe it can give you beauty. See, this is my friend. Maybe she wants to be more beautiful. hahaha.
    They serve the holy bible for moslem too. Some of the bible are already very very old. Some people believe if they want to be blessed they have to read the bible near the grave.
    If you want to get there, don’t forget to bring some food and drink because there is no food stall there.

    IMG_0819

    Sewaktu di Aceh aku mendapatkan kesempatan untuk mendatangi makam Tengku Cik Ditiro. Bagi setiap perempuan yang ingin mendatangi makam ini diwajibkan untuk mengenakan kerudung karena Aceh menerapkan syariat Islam. Lihat saya dengan kerudung. Cantik tidak?
    Di sana disediakan juga air di dalam gentong. Bagi yang percaya, air tersebut bisa mendatangkan berkat atau pun membuat awet muda. Caranya dengan diminum atau dibasuhkan ke muka. Lihat, teman saya mungkin ingin tetap awet muda!

    Ada beberapa kitab suci bagi umat muslim (Alquran). Beberapa dari kitab ini sudah usang karena dimakan usia. Beberapa orang percaya dengan membaca kitab atau mengaji di sekitar makam ini bisa mendatangkan berkat. Saya sendiri lebih tertarik dengan kitabnya karena sudah tua. Seharusnya buku-buku tua seperti itu dirawat karena merupakan aset berharga. Semoga saja penjaga makam ini menghayati tugas mulia yang diembannya.

  • 1 Comment
  • Filed under: My Journey
  • Mess FODO Nias

    I want to tell you about my dormitory when I was in Nias. At the first time, its 7 people live here. Its me, Akbar, Kak Priska, Bang Freddy, Pak Kadek, Pak Zai and Bang Telli as the house keeper. And Amangboru Gurning as the last person who comes here. On week end we usually worked together. See, this is Bang Freddy ironing his clothes.
    This is Bang Telli sweeping the floor.
    And Kak Priska washing her clothes.
    After finished with all our things, we usually sat together in front of the television. Look at this picture! We never forget to smile.
    Sometimes we went to the beach for swimming or just sitting there and have some drink. See, this is me, Akbar and Kak Priska after swimming.
    Hmm…. Lovely dormitory. I will miss it.

  • 1 Comment
  • Filed under: My Journey
  • Nias Museum

    Back to Nias. Hmm, my lovely island. Finally, after a long time stranded in Aceh, I go to Nias Island. This time I only have a little time to stay. This time I have a chance to go to Nias Museum. See, this is one of Nias Statue.

    IMG_1140

    I think it’s symbol have similarity with symbol from Toba – North Sumatera. It is a small lizard and penis. Maybe it’s have similar meanings with Toba’s Symbol which is small lizard and 4 breast. Lizard for capability for adapting everywhere (in the big town, small village, forest, etc) and Breast for taking care of children (2) and husband (2). So that, at that time beautiful girl must have big breast (hahaha………). And if it is penis, hmm….. I don’t know the meaning. Maybe male must have good good penis to produce a lot of children there. Hahahah…….(big laugh!)

    See I take a picture with my boss in front of that things.

    IMG_1142

    The other things you can see on the museum is Nias Traditional House which is diffrent with Nias Selatan Traditional House (remember the Hombo Batu?).

    And suprising me, I see some people snorkling in the back part of this museum. Waw, I asked them to teach me how to do that. Hmm… I enjoy this snorkling time eventhough its 2 hours before my plane taking off from Binaka. I believe that my boss already afraid of being late to catch the plane. Hahaha………

    teach me snorkling please

    snorkling equipment

  • 0 Comments
  • Filed under: My Journey
  • Cakradonya

    Tidak banyak yang bisa aku ceritakan dengan foto ini. Foto ini aku ambil saat mengunjungi Museum Nasional di Banda Aceh. Ternyata lonceng ini namanya Cakradonya, pemberian dari negeri Cina. Mungkin supaya orang Aceh belajar hingga negeri Cina! Hehehe….

    IMG_0786

    I have no information about this bell. I take this picture when I visited National Museum at Banda Aceh. This bell called Cakradonya. It’s a gift from China Imperium. Maybe it’s to encourage Acehnese to study hard like the Chinese!

  • 0 Comments
  • Filed under: My Journey
  • cumi-cumi atau gurita?

    Masih sekitar Nias….
    Ceritanya aku belanja untuk mencari ikan sebagai santapan kami di Mess Fodo(wah, aku belum cerita keramaian di Mess Fodo ya?). Rencananya Akbar (rekan kerjaku) ingin makan cumi asam manis yang dimasak sendiri. Jadi kami ramai-ramai mencari cumi-cumi ke desanya para nelayan yaitu Olora. Di sana ikan memang relatif murah dibandingkan dengan di pasar Gunung Sitoli. Namun untuk mendapatkan ikan dengan harga murah, kita harus pakai trik juga.
    1. Turun dari mobil sejauh mungkin, karena jika mereka melihat kita naik mobil harga ikan ikut naik.
    2. Jangan menggunakan baju yang terlalu rapih karena akan dianggap mempunyai uang yang banyak sehingga ikan otomatis mahal.
    3. Cari teman yang bisa bahasa daerah. Atau dengan modal “hauga?” yang artinya “berapa?” atau “hauga fefu?” yang artinya “berapa semua?”. Karena asumsi mereka jika tidak bisa bahasa daerah berarti pendatang. Pendatang biasanya kerja di NGO atau BRR. Orang yang kerja di NGO atau BRR pasti mempunyai duit yang banyak sehingga sah-sah saja jika harus membayar mahal.

    Jadi kami menghentikan mobil cukup jauh dan berjalan kaki sepanjang pantai.

    DSC00730

    DSC00732

    Walau mau mendapat harga cumi yang murah, tapi kami tidak lupa bergaya. Masa bodo dengan mahal, yang penting gaya euy!

    DSC00731

    Coba lihat besar ya cumi-cumi yang kami dapatkan! Cumi-cumi ini berhasil kami tawar seharga Rp15.000. Kami tidak tahu itu murah atau mahal. Tapi cukup lah untuk makan kami sehari.

    DSC00734

  • 1 Comment
  • Filed under: My Journey
  • Bermain di Pantai Nias

    Sewaktu di Nias aku berkesempatan bermain air di pantai Nias. Wah, menyenangkan. Memang lebih indah pantai di Nias Selatan, hanya saja lebih banyak temanku yang tinggal di Nias. Senangnya bersenang-senang dengan para perempuan ini.
    beach girl
    Lihat deh, centil-centil
    beach girl 2
    gaya-gaya
    beach girl 7
    menyenangkan!
    beach girl 8

  • 13 Comments
  • Filed under: My Journey
  • Peresmian Perwakilan Nias

    DSC01293

    Sewaktu aku ke Nias, kantor ku membuka kantor perwakilan baru di sana. Acaranya sih biasa saja. Tapi karena acara ini aku berkesempatan untuk memakai pakaian adat Nias. Lihat deh, cocok gak aku jadi orang Nias?

    DSC01294

    ini foto pakaian adat Nias untuk perempuan dan laki-laki.

    DSC01297

    Bagaimana menurut kalian tentang pakaian Nias?

  • 7 Comments
  • Filed under: My Journey
  • Brem Bali

    sewaktu aku di Nias, manajerku -Pak Kadek panggilannya- pulang kampung ke Bali. Aku minta oleh2 dari Bali. Dia bawa gelang untuk yang perempuan dan Brem Bali untuk yang laki-laki.

    Melihat bungkusnya aku pikir sirup. sewaktu ku minum rasanya memang manis dan sedikit hangat. Hmm,… semacam bir, tapi kalau bir pahit.
    Walaupun tidak terlalu tinggi kadar alkoholnya, aku tidak sanggup meminumnya satu botol.

    BremBali_P'Kadek

    Sewaktu Bos ku melihatnya, dia teringat masa mudanya. Ternyata bungkus brem tersebut sama dengan 15 tahun yang lalu. Wah, ternyata Brem Bali bisa menjadi kenangan.

  • 1 Comment
  • Filed under: My Journey
  • Bawomatoluo

    Kembali lagi bercerita tentang Nias. Ya, walaupun bukan kampung halaman ku, aku suka sekali pergi ke pulau Nias. Selain teman-temanku yang ramah di sana, pemandangan di sana sangat indah. Salah satu tempat yang bisa dikunjungi di Nias adalah Bawomatoluo. Daerah itu terletak di Kabupaten Nias Selatan Kepulauan Nias. Bisa dicapai sekitar 1 jam dari Teluk dalam.
    Ada apa di Bawomatoluo?
    Bawomatoluo adalah salah satu kampung tradisional di Nias. Namun tidak terlalu tradisional karena penduduknya sudah pakai baju layaknya orang di kota. Kampung ini memang terletak lebih tinggi dari jalan masuknya karena memang Nias itu daerah Berbukit. Saat kita sampai di pintu masuknya, beberapa anak berumur sekitar 10tahun akan datang mengerumuni kita untuk menjual cendera mata khas Bawomatoluo. Pemandangan yang menarik di sini adalah tata ruangnya. Rumahnya masih rumah adat orang Nias (walaupun dibeberapa bagian sudah diadaptasi dengan yang baru seperti atap seng –> seharusnya rumbia). Di kampung ini juga terdapat rumah adat nias paling besar. Rumah ini dibuat dari kayu-kayu besar yang sangat kokoh. Waw, coba lihat! kayu besar ini tidak ada sambungannya. Ukiran khas Nias juga melengkapi keindahan dinding kayu Rumah Besar ini. Rumah ini sedikit gelap karena tidak semua ruang dipasang lampu listrik. Tahukah kamu pintu masuknya sengaja dibuat rendah (sekitar 1,5 meter). Sengaja dirancang seperti itu supaya setiap orang yang masuk harus menunduk yang sekaligus berarti menghormati pemilik rumah.
    Jika ingin melihat atraksi lompat batu, kita bisa membayar Rp 25.000 per orang lompat. Jika punya Rp 75.000 berarti kita bisa melihat 3 orang lompat (dari muda sampai orang tua). Sungguh hebat mereka. Coba saja lihat. Batu untuk loncat (Hombo Batu) tersebut lebih tinggi dari pada aku. Kalau badanku sekitar 160cm berarti Hombo Batu tersebut sekitar 2meter. Hmm, kalau dipikir berarti seharusnya orang Nias bisa menjadi atlit lompat tinggi profesional. Ya, karena dahulu orang Nias dikatakan dewasa jika sudah dapat melakukan lompat batu. Keahlian ini berguna bagi mereka sewaktu menghadapi perang. Mereka bisa melompati benteng musuh dengan mudah. Siapa yang sangka ya, ternyata keahlian tersebut sekarang bisa digunakan untuk mencari duit? Lihat deh, aku bergaya loncat batu! Cocok gak? Padahal aku sama sekali tidak bisa loncat.Hahaha…..

    DSCN0032

    Senang juga bisa berkeliling di Kampung Bawomatoluo. Karena aku datang sambil bekerja, tidak banyak yang bisa ku ceritakan. Tapi cukup menarikkan untuk didatangi?
    Jangan takut, asal kita baik, orang Nias juga akan ramah kepada kita.
    Jika tertarik mengunjungi Nias, aku bisa bantu kamu untuk perjalanan di sana.

  • 2 Comments
  • Filed under: My Journey